Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Pancasila Sakti

Masih pada bulan Mei juga, akhirnya bisa berkesempatan berkunjung ke museum Pancasila Sakti. Deg-deg an juga siy berkunjung ke museum ini karena masih terngiang-ngiang seremnya sejarah G30S/PKI. Jadi inget kalo dulu diwajibkan nonton filmnya, hmmmm tapi sampe sekarang saya belum pernah sekalipun menonton filmnya. Sumpah gak berani liatnya, katanya serem banget berdarah-darah dan sadis. Huaahhhh, beruntung juga gak nonton, karena kalo sempet nonton pasti kebayang-bayang terus sampe sekarang ( maklum imajinasi nya kadang suka ketinggian ngebayanginnya hehehe )

Awalnya memang ndak sengaja kesana, tetapi karena ada undangan di sekitar daerah Lubang Buaya, jadi sekalian berwisata museum lagi. Museum ini terletak di Lubang Buaya, Pondok Gede. Dekat dengan  Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Kali ini rombongan dengan mama mertua. Malah beliau yang antusias banget pas tau kita jadi kesana, ehehhe.... Bandung - Jakarta PP kami gunakan dengan sebaik-baiknya.

Kami memasuki gerbang museum yang ternyata didalamnya sangaaaaattttt luas. Banyak anak-anak sekolah yang mengunjungi museumnya. Museum sejarah ini di dalamnya terdapat Monumen Pancasila Sakti, museum diorama (miniatur 3D untuk menggambarkan figur para pahlawan revolusi), ada sumur tua,  ruangan relik, yang berisi patung tentang penyiksaan korban TNI ( Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjen Raden Suprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo, Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Brigjen Donald Isaac Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo dan Lettu CZI Pierre Andreas Tendean)  dan lapangan peringatan peristiwa sejarah itu.


Dibagian yang berisi bekas-bekas pakaian dengan noda darah, saya sempet tarik-tarikan sama ponakan karena saya keukeuh gak mau masuk, karena ngeri liat sub judulnya " Pakaian dan bekas darah " halaaaahhh udah kebayang aja seremnya kayak gimana.. Pakaian yang terkoyak dengan noda merah kecoklatan menghiasi pakain tersebut..gak berani liaaaat... tapi karena di luar saya sendirian dan kelupaan  bawa novel andalan jadilah tergoda untuk masuk sambil diberani-beraniin, jadi timbul antusias niy  bahkan ponakan saya yang berumur 2 tahun ikutan masuk dengan heboh dan langsung lari ngibrit kedalemnya, fiuuuh, akhirnya saya ikut masuk deh dengan bekal buku ringkasan perjuangan rakyat yang saya dapat saat membeli tiket masuk. Bukunya akhirnya  saya pakai buat nutupin mata, hahahahhah...maksa banget....



Sampai didalam ternyata banyak orang dan ternyata gak seseram yang saya bayangkan, dan diluar dugaan saya malah nangis, gak nangis banget siy, hanya sempat menitikkan air mata melihat pakaian yang terkena bekas lubang peluru...sediiihhhh...... di pikiran saya mendadak seperti ada roll film yang berputar yang menggambarkan tentang penculikan tersebut versi pikiran saya...tegaaa bangeettt... ;(. Sayangnya lagi gak bawa kamera dan baterei HP pada sekarat semuanya, gak sempet mendokumentasikannya dehh.... next time kesana lagi mungkin ya.....kan sama anak ;p

Pakaian yang diperlihatkan disana warnanya sudah kusam, iyalah karena sudah lama sekali. Bayangan tentang bekas noda darah pun lenyap sudah, karena hampir tidak terlihat warna merahnya. Yang nampak adanya lubang bekas peluru di pakaian tersebut. Barang-barang lain yang dipakai para korban kekejaman PKI juga tersimpan disana. Ada cincin, sarung, celana pendek, pakaian tidur,dan masih banyak yang lainnya. Barang-barang yang membisu tapi menyimpan cerita yang sangat memilukan :(

Nah setelah keluar dari museum, kami melihat monumen pancasila Sakti dan didepannya terdapat lubang buaya yang dulu..........( gak tega nulisnya...) dijadikan tempat pembuangan jenazah korban G30S/PKI


Ini sumurnya dengan kedalam 12m. Diatasnya ada cermin sehingga kita bisa melihat dasar sumur melalui cermin ini.

              

Beberapa jam kami disana, pengetahuan dan jiwa nasionalis kami bertambah. InsyaAllah melakukan sesuatu dengan usaha yang terbaik untuk hasil yang bisa dirasakan banyak orang. Mungkin yang akan kita lakukan sekarang berbeda dengan masa dimana perjuangan fisik dibutuhkan untuk merebut apa yang dinamakan kebebasan dan kemerdekaan. Tapi sedikit hal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, fokus, dan ikhlas semoga bisa memberi sumbangsih yang berarti buat negeri kita tercinta ini. Lebih baik mengurangi  menghujat para koruptor-koruptor atau menghujat tentang pembuat kebijakan yang tidak tepat sasaran.  Malah nambahin dosa aja. Mending jalani apa yang kita kerjakan sekarang dengan sungguh-sungguh dengan niat karena Allah dan demi Indonesia tercinta. Karena dimanapun kita berada, darah Indonesia mengalir di tubuh kita. Bagimu negeri...jiwa raga kami.... 100% Indonesia :)





Jalan-Jalan ke Museum Yuuukkkk.....

Teringat  guyonan saya dengan rekan kerja saya " Widiiwww orang kayak gitu kenapa gak dimuseumkan ajah ih, langkaaaa beneeerrr bu..." hahhaha guyonan yang simple tapi jadi bikin saya teringat tentang museum., dan pengen share betapa menyenangkannya berada di museum. Ya tempat tersimpannya barang-barang penting dan tentunya bersejarah. Kadang bikin melongo, kagum, bahkan bergidik ngeri. Sensasi rasa yang campur aduk serunya....Menurut Wikipedia pengertian museum adalah  sebuah tempat yang menyimpan benda-benda sejarah, sains, seni, dan mengandung unsur budaya yang sangat penting untuk dilihat oleh masyarakat umum melalui sebuah konsep pameran.

A museum is an institution that cares for a collections of artifacts and other objects of scientific, artistic, cultural, or historical importance and makes them available for public viewing through exhibits that may be permanent or temporary.

Saya senang sekali berada di museum atau tempat bersejarah selama berjam-jam hanya untuk  menyerap informasi tentang kehidupan masa lalu, atau sekedar mengagumi rangkaian peristiwa yang pernah terjadi jauuuuuuh sebelum saya lahir. Banyak pelajaran yang bisa diambil, salah satu yang paling terasa adalah rasa menghargai.  Dengan belajar dari masa lalu atau dari sejarah akan lebih tertanam rasa menghargai  dan bersyukur dengan apa yang telah kita punyai sekarang.

Bulan lalu saya mengunjungi Museum Sri Baduga ( untuk yang kesekian kalinya lagi ) tepatnya berada di Jalan BKR no 185 Bandung, tidak begitu jauh tempatnya dari monumen perjuangan Bandung Lautan Api ( BLA ). Tarif masuknya hanya Rp. 2500.  Hmmm sangat murah dengan keadaan museum yang sangat bersih dan tertata apik. Like it so much... Saya datang kesana Hari Minggu pagi, whaaa seneeeng deh karena banyak pengunjungnya, artinya banyak yang suka dateng ke museum wekend gini. Good choice..
Kalo nanti punya anak, museum adalah tempat yang termasuk dalam list untuk menjadi kunjungan wajib setiap libur ;p selain tentunya kebun binatang yang emang udah wajib banget buat semua keluarga, hehehe


Setelah membayar tiket masuk, saya menuju lantai 1 yang disambut oleh patung Ibu Dewi Sartika. tempat ini selalu bersih dan menyenangkan, sukaaaaa....hehehehe. Dilantai ini bisa didapati tentang struktur wilayah Bandung dan sekitarnya, serta fosil binatang-binatang langka yang sudah punah

Dewi Sartika

Ini adalah patung Ibu Dewi Sartika, beliau adalah pahlawan wanita yang concern terhadap pendidikan kaum wanita. Dewi Sartika  lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dan wafat di Cineam, Tasikmalaya pada 11 September 1947. Putri dari seorang patih di Bandung yang bernama Raden Somanegara dengan Raden Ayu Permas. Mereka dibuang ke Ternate oleh pemerintah Hindia Belanda karena tuduhan memberontak. Setelah orang tuanya diasingkan, beliau tinggal dengan pamannya Patih  Aria di Cicalengka. Tahun 1902 dewi Sartika sudah berkiprah dalam dunia pendidikan dengan mengajarakan membaca, menulis, memasak untuk para perempuan disekitarnya. Pada tahun 1904 Beliau mendirikan Sakola Istri, dan pada tahun 1914 diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Dibagian museum yang lain tepatnya di lantai 2, terdapat baju-baju pengantin Jawa Barat serta serba-serbi kehidupan masyarakatnya.

 

Busana Pengantin Cirebon

Busana pengantin kebesaran Cirebon diciptakan oleh Sultan Komarudin II ( Sultan Cirebon ke VII ). Busana dan tata rias pengantin ini awalnya hanya dipakai oleh putra putri atau keturunan langsung sultan. Busana berwarna hjau yang divariasi kuning melambangkan kesuburan dan kebesaran. Pengantin pria mengenakan mahkota Drawarawati berbentuk mahkota Prabu Kresna. Kain yang digunakan oleh kedua pengantin mermotif singa barong.
Khusus di lingkungan Keraton Cirebon, stelah sungkem diteruskan dengan upacara Pug-pugan yaitu penaburan serpihan rumbia yang telah lapuk di atas kepala pengantin oleh orang tua pengantin perempuan sebagai simbol kekeluargaan dan harapan perkawinannya langgeng.







Busana Pengantin Leluhur Sumedang
 Awalnya hanya dipakai oleh keluarga Bupati Sumedang dan kerabatnya yang dianggap golongan bangsawan. Model busana ini meniru Prabu Niskala Wastukancana ketika dinobatkan menjadi RAja Galuh. Pengantin pria mengenakan Binokasih Sanghyang Pake. Mahkota sli dibuat oleh Sanghyang Bunisora Suradipati. Hiasan pada pelaminan berupa paying yang bermakna keagungan dan sepasang kembar mayang simbol pengantin laki-laki dan perempuan. Pada wkatu seserahan  biasanya digunakan dongdang untuk mengangkut benda-benda bawaan berupa bahan makanan dari calon mempelai pria untuk calon mempelai wanita.







Model Busana Pengantin Abah-Abah
Bondan dikenakan oleh masyarakat umum di Cirebon. Ragam hias pada busana pengantin ini sebagian besar motif barong dan naga bermakna kebesaran/kekuasaan, dan kebahagiaan. Busana pengantin wanita adalah kebaya sutra ditutup hiasan yang menutup bahu hingga dada. Bagian bawah mengenakan sarung Bugis. Kepala dihiasi taplok bathok ( penutup dahi ), kembang goyang manuk, tusuk gelung melati, kembang goyang bunga. Hiasan badan berupa gelang badong (gelang tangan ), badong lengan, giwang dan ali. Pengantin pria mengenakan baju model Sanghai, celana sontog, sarung polecat, kepala memakai iket dan ditutup dengan udeng naga berbentuk naga melingkar dihiasi motif burung, bunga jumbai-jumbai rantai biji mentimun. Badan berhiaskan kalung rante ukon, terdiri dari untaian uang logam, badong lengan, gelang badong, badong weteng ( ikat pinggang ) yang diselipkan pisau.


Suhunan Julang Ngapak



Bentuk atap rumah yang melebar ke samping, sehingga disebut julang ngapak, yaitu menyerupai buruk yang sedang mengepakkan sayapnya








Suhunan Limasan


Bentuk atap rumah seperti ini banyak berkembang di pedalaman Cirebon

















Bulan Juni ini Museum Sribaduga mengadakan event yang bertema Mahakarya Tarumenagera, can't wait until  weekend to visit this event.;) Temen-temen dateng juga yuk, pasti seru deh. Acaranya sampe 18 Juni 2012. C'mon c u there...

Minggu, 25 Maret 2012

Bandung Lautan Api..Sepenggal Kisah Heroik dari Kota Tercinta

 
Tanggal 24 Maret hari ini diperingati untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api. Walaaah baru ngeuh juga setelah lihat liputan siang di salah satu stasiun TV swasta. Tok-tok-tok neng....malu juga niy sebagai orang Bandung yang tinggalnya deket banget sama monumen Bandung Lautan Api (BLA) tapi gak hafal sejarah, ya minimal kan tahu dikiiit, hehehe. Masa ndak aware dan gak penasaran ada monumen segede gaban yang nemplok di tengah lapangan. Bahkan suka dipake setting acara musik besar hehehe.

Iyaa abisnya kalo ke BLA bukannya olahraga malah cuci mata karena banyaknya pasar kaget, hahaha, duuh naluri belanja emang nempel banget tuh ya. Padahal niat awal udah mau olahraga plus lengkap dengan sepatu olahraganya. Hohohoohooo sampe di tempat eeeeehhhh malaaah wisata belanja, hadeuuuh plus wisata kuliner, hadeuuuhhh lagi *tepok jidat, ahahhaha

Udah ah curcol nya...mau nyeritain yang BLA ajah, get from many sources. Istilah Bandung Lautan Api sendiri muncul karena pada tanggal 24 Maret 1946 wilayah Bandung Selatan dibumingahuskan oleh  pejuang dan penduduknya sendiri agar wilayahnya tidak dikuasai oleh sekutu.   Moh. Ramdan dan Moch. Toha adalah para pejuang yang ditugasi untuk membakar gudang mesiu yang berada di daerah Dayeuhkolot, tapi saat melaksanakan tugasnya mereka  gugur  karena ledakan granat tangan yang mereka bawa untuk meledakan gudang mesiu tersebut.

Bermula dari Tentara Sekutu dan NICA Belanda yang  menguasai wilayah Bandung Utara memberikan ultimatum kepada Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk meninggalkan wilayah  Bandung . Hal ini disetujui oleh Pihak TRI Jakarta, dimana Menteri Keamanan Rakyat saat itu MR. Amir Syarifuddin datang ke Bandung dan memberi perintah untuk mengundurkan diri dari Kota Bandung,  tetapi pihak TRI Yogyakarta memutuskan untuk mempertahankan wilayah Bandung Selatan. Maka TRI dan masyarakat Bandung memutuskan untuk mundur ke selatan sambil membakar kota Bandung karena mereka tidak rela wilayahnya dimanfaatkan oleh tentara Sekutu.

Pembakaran dimulai jam 9 malam, tempat pertama yang dibakar adalah Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang). Para pejuang dan masyarakat membakari semua bangunan dari di sekitar Jalan Kereta Api dari Ujung Berung ke Cimahi sehingga menyebabkan kobaran api sepajang 12KM dari timur ke barat Bandung.

Aca Bastaman seorang wartawan dikenal sebagai orang pertama yang mempopulerkan istilah Bandung Lautan Api, karena dia melihat dari wilayah Pameungpeuk kobaran api yang sangat merah membakar Bandung, maka beliau membuat liputan tentang peristiwa tersebut. Cerita lain juga mengatakan bahwa Rukana yang menyuarakan tentang Bandung Lautan Api kepada Komandan Siliwangi AH. Nasution.

Tersinspirasi dari peristiwa Bandung Lautan Api, banyak tokoh yang mengabadikannya dalam bentuk sastra tulis dan lagu.

 Halo-Halo Bandung

 Pencipta / Pengarang Lirik dan Lagu : Ismail Marzuki


Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali




Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api - WS. Rendra

Bagaimana mungkin kita bernegara
bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
bagaimana mungkin kita berbangsa
bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?
Itulah sebabnya
kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
manusia mana
akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
itulah sebabnya kami melawan penindasan
kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asap medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan?
ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap
sukmaku gagap
apakah aku dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku
Apakah yang terjadi?
Darah teman-temanku
telah tumpah di Sukakarsa
di Dayeuh Kolot
di Kiara Condong
di setiap jejak medan laga.
Kini
kami tersentak,
terbangun bersama.
putera-puteriku, apakah yang terjadi?
apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
apakah kita masih sama-sama setia
membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
aan menghadapi pertanyaan jaman:
apakah yang terjadi?
apakah yang telah kamu lakukan?
apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
dari jawaban yang kita berikan.
Oleh : W.S. Rendra
Source from www.ipuisi.com

Untuk memperingati dan agar masyarakat Bandung bisa merasakan perjuangan Bandung LAutan Api, maka Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) bekerjasama dengan American Express Bank Fondation (AMEX Bank Fondation) membuat “Bandung Lautan Api Heritage Trail” . Dalam membuat jalur ini, telah dibangun 10 stilasi berukuran tinggi sekitar 1,5m. Stilasi ini dibuat oleh Sunaryo seorang seniman Bandung. Stilasi ini memiliki tiga sisi yang memberikan informasi tentang peristiwa yang terjadi dilokasi berdirinya stilasi tersebut, yaitu keterangan Pembuat Stilasi (Bandung Heritage) dan (AMEX Bank Fondation), Teks Lagu “Halo-Halo Bandung” sebagai Penanda Stilasi, serta Peta “Bandung Lautan Api Heritage Trail”. “Bandung Lautan Api Heritage Trail” dibuat dari Bandung Utara ke Bandung Selatan, melintasi jalur kereta api dan berakhir di Lapangan Tegallega dengan Tugu “Bandung Lautan Api” yang telah dibangun beberapa tahun sebelumnya.


Sekilas Lintas tentang Konsep estetika stilasi Bandung Lautan Api Heritage Trail  http://newyorkermen.multiply.com/journal
stilasi-BLA

Konsep bentuk, bangun dasar dari stilasi Bandung Lautan Api Heritage Trail, adalah prisma tegak, vertical diatas silinder piph, geometris sehigga pandangan keseluruhan menyerupai “TONGGAK atau “PILAR” yang eksak, ditengah bentuk-bentuk yang biasanya complicated dalam ruang urban. Dari kontras yang terjadi, diharapkan stilasi tersebut tumbuh menjadi eksistensi visual yang berarti sesuai dengan misinya sebagai tanda peringatan atau monumen. Teks bentuk “TONGGAK” atau “ PILAR” sangat penting terutama ketika dikaitkan kiranya tidak berlebihan jika stilasi  tersebut kita sebut sebagai `TONGGAK SEJARAH` atau `PILAR SEJARAH`.
Seperti kita pahami berasama, kehadiran stilasi Bandung Lautan Api Heritage Trail, adalah eksistensi sebuah tanda peringatan, ibarat sebuah pintu masuk menuju ruang kesejarahan, patut dirawat dan dipelihara agar benda ini lestari. (Sunaryo).










LOKASI 10 (SEPULUH) STILASI: 
bla1
Kantor Berita Domei (Jl. Ir. H. Juanda-Sultan Agung ); teks Proklamasi pertama kali dibaca oleh rakyat Bandung.
bla2
Gedung Denis (Bank JABAR), Persimpangan Jl. Braga dan Naripan; insiden bendera yang dilakukan oleh E. Karmas dan Moeljono sekitar Oktober 1945. “… sampai diatas, lalu megang tiang bendera, ternyata saya berdua dengan Moeljono. Moeljono berteriak, “Terus, terus naik!” saya bingung. Waktu lihat kebawah, ngeri sekali. Untung saja, bendera terkulai, dan terpegang ujungnya. Moeljono memegang bendera, saya membuka bayonet, lantas bendera Belanda tersebut disobek bagian birunya. Ternyata banyak orang dibawah, saya agak besar hati karena tidak sendiri …” (M.E. Karmas).
bla3



Gedung Asuransi Jiwas Raya (Jl. Asia Afrika); dahulu markas Resimen 8.
“Tanggal 13 Oktober 1945, kurang lebih jam 9.00, pimpinan TKR sedang berapat di Gedung NILMIJ sebelah utara alun-alun. Tak diduga sebelumnya, dating konvoi pasukan komando … sangat disesalkan bahwa kami tidak diberitahu tentang kedatangan mereka … akhirnya kedatangan mereka dicurigai oleh semua badan perjuangan, meskipun mereka mengakui beiitikad baik untuk mengatur kembali Jepang dan membebaskan para tawanan Belanda,” (Kolonel TNI (Purn.) H. Daeng Kosasih Ardiwinata).
bla4





Rumah di Jl. Simpang; tempat perumusan serta diputuskannya pembumihangusan Kota Bandung.” … Kita disini asal bisa tidur, bisa makan. Sementara rapat, rapat, rapat, terus berjalan, membuat rencana. Kita sering berkumpul di Simpangsteeg… ada komandan resimen. Kumpul saja begini. Ada yang duduk diatas. Kita merencanakan disana.” (Kolonel TNI (Purn.) H. Daeng Kosasih Ardiwinata). 



bla5 






Jalan Oto Iskandardinata-Jalan Kautaman Istri.



bla6











Rumah di Jl. Simpang; tempat perumusan serta diputuskannya pembumihangusan Kota Bandung.” … Kita disini asal bisa tidur, bisa makan. Sementara rapat, rapat, rapat, terus berjalan, membuat rencana. Kita sering berkumpul di Simpangsteeg… ada komandan resimen. Kumpul saja begini. Ada yang duduk diatas. Kita merencanakan disana.” (Kolonel TNI (Purn.) H. Daeng Kosasih Ardiwinata).















Rumah dan Markas Kolonel Abdul Haris Nasution (Jl. Dewi Sartika).”… Kantor tempat saya bekerja dulu namanya Regentsweg, persis disamping kabupaten,”  (Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution) 





bla7






Pertigaan Lengkong dalam – lengkong tengah; tempat tinggal warga Indo-Belanda
“… 6 Desember 1945, Lengkong Besar dibom oleh pesawat Thunderbolt Inggris. Banyak  orang Indo Belanda yang tinggal di daerah ini,” Sungai Cikapundung, saksi bisu musibah banjir.”… waktu itu saya masuk PMI. Cikapundung Banjir besar sekali. Babakan Ciamis, lengkong, Sasak gantung. Kami diserang oleh Inggris, mereka membombardir dari Homann,” (Karman Somawidjaja)
 

bla8Jalan Jembatan Baru; Garis Pertahanan pemuda pejuang saat terjadintya pertempuran lengkong.
“… Saya ingat, pada hari minggu mereka menyerang ke jurusan lengkong. Kami bertahan antara Jembatan Baru dari Jam 8 pagi sampai 2 siang. Kami kalah kuat, ada serangan pesawat Mustang. Malah antara Ciateul-Haji Umar diserang Bom,” (Endang Momo)


bla9





SD ASMI (Jl. Asmi); markas Pemuda Pejuang sebelum Peristiwa Bandung Lautan Api.
”… Markas Pemuda PESINDO dan BBRI berada di Gang Asmi, ya di SD Asmi itulah. Keakraban diantara kami ditunjukan lewat tukar menukar senjata, ‘ (Upin UMri).
bla10










Jalan Mohammad Toha; gedung pemancar NIROM yang digumakan untuk menyebarkan Proklamasi RI ke seluruh Indonesia dan dunia.
”… kemudian Pak Darya menulis surat kabar Bandung, bahwa beliau berhasil menyiarkan lagu Indonesia Raya dan teks Proklamasi sehingga terdengar ke seluruh dunia. Bahkan ada orang Indonesia di Arab yang menyurati beliau, ‘Terima kasih, karena saya tahu dari radio Bandung’ …” (M.E. Karmas).
Inilah sepenggal cerita dari peristiwa Bandung Lautan Api, dimana pengorbanan dibutuhkan untuk mempertahankan sesuatu yang sangat dicintai. Idealisme menjadi pembakar semangat yang ampuh untuk membangkitkan semangat para pejuang dan penduduk Bandung. Sampai sekarang saya masih sangat mencintai Bandung dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setiap bangun pagi dan melihat lalu lintas yang sudah mulai ramai di depan rumah saya, sedikit senyum menghias pagi hari saya karena pada waktu sepagi ini pun penduduk Bandung sudah mulai melaksanakan aktifitasnya. Sebelum saya berangkat mengajar saya pasti selalu menarik nafas panjang dan tersenyum lebih lebar karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar di kota saya yang tercinta ini.




Senin, 19 Maret 2012

ISOLA Punya Cerita...

Tiba-tiba teringat artikel tentang ISOLA yang di tag tahun lalu ke FB saya. Hehhehe Waktu itu saya sempet malu karena sebagai alumni UPI sempet gak tau tentang sejarah ISOLA, yang ngetag malah alumni ITB, hehehe. Mas Ruly saya ijin lagi ya artikelnya dishare di blog, berhubung banyak anak-anak UPI biar sama-sama hatam tentang sejarahnya dan kisah Berretty yang dulu sempet heboh  diskusinya...

Teman-teman ini sejarah ISOLA, ada beberapa bagian ya, have a nice reading all :)





Untuk mewujudkan ambisinya membangun sebuah Vila mewah dan modern, Berretty telah memilih lokasi yang telah diperhitungkannya secara matang dari berbagai macam aspek. Tanah seluas 120.000 meter di desa Tjidadap, tepatnya di Lembangweg, kini sekarang jalan Setiabudi Kota Bandung, memiliki lokasi yang sangat strategis baik dari sudut pandang maupun aksesibilitasnya. Iklim Bandung di kala itu masih sangat dingin, apalagi di kawasan Bandung Utara yang dekat dengan lembang. Lokasi tersebut sangat tepat peruntukkannya sebagai lokasi Vila atau rumah peristirahatan, karena jaraknya dari dan menuju pusat kota relatif cukup jauh.

Pada hari Minggu 12 Maret 1933, Berretty mengadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan vilanya tersebut. Hampir semua orang penting di Kota Bandung hadir pada acara tersebut, diantaranya; Walikota Bandung, Kepala Kantoor PTT beserta para pejabatnya, Para Anggota Dewan Rakyat, Presiden Royal Packet Company, Chen Italia, Konsul di Batavia, para komandan dari Departemen Penerbangan dan kesembilan batalyon infanteri Tjimahi, Kepala Distrik Provinsial Air, Bupati Bandung dan hoofdpenghoeloe,pemimpin bisnis lokal, staf kantor pusat Aneta, editor dari berbagai surat kabar di daerah lain, termasuk Bapak Arnoldo Fraccaroli, dari Corriere della Sera di Milan, dll
(Sumber dari harian "Java Bode", Selasa 14 Maret 1933).

Perjalanan keliling situs pembangunan dimulai pukul 10.00 dipimpin oleh Berretty sendiri, mengajak para tamu berkeliling. Peletakan batu pertama dimulai oleh peletakan bata pertama oleh putera Berretty, diikuti oleh para tamu yang menyusun bata untuk dipasang pada bagian bangunan yang pertama digarap. Sambil memperhatikan para tamu yang ikut meletakkan bata, Berretty bercerita impiannya tentang Vila ini, termasuk bunga-bungaan yang menghiasinya adalah bunga-bunga yang dibiakkan secara khusus, dan dipasang sesuai dengan desain bangunan secara keseluruhan. Seorang yang perfeksionis!

Tak lama kemudian, Prof. Wolff Schoemacher, seorang guru besar arsitek pengajar di Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) dan yang dipilih oleh Berretty untuk mendesain vilanya, menjelaskan konsep keseluruhan bangunan vila berikut taman dan kolamnya. Pada masa itu, Schoemacher adalah arsitek yang sangat terkenal, dan karyanya banyak menghiasi kota Bandung, seperti Beberapa gedung di Jalan Braga, Katedral di Jalan Merdeka, Masjid Cipaganti,dan beberapa gedung yang menjadi Landmark Kota Bandung.

Ada beberapa patah kata menarik dari sambutan yang dilontarkan oleh Berretty, bahwa ia sangat mencintai negeri ini, dan akan menetap selamanya di Hindia Belanda. Ia juga menegaskan kepada para tamu, bahwa ia tidak akan pindah ke negara manapun juga, dan akan terus memimpin dan membesarkan Aneta menjadi agen pers yang ternama. Mr Kiewiet de Jonge, seorang pejabat Hindia Belanda berkata, vila ini mempunyai sudut pandang yang menarik dari sudut manapun juga. Staf kabupaten, R. Moehamad Henokh, memuji kerja keras yang dilakukan dalam membangun kawasan vila tersebut dengan melibatkan 700 orang tenaga kerja dengan perlakuan penggajian dan pemberian makanan dengan sangat baik.

Tujuh bulan berlangsung pembangunan ekstra cepat, akhirnya selesailah vila yang spektakuler tersebut. Pada tanggal 16 Desember 1933, Berretty dan nyonya mengundang tamu-tamu penting pada peresmiannya.Seperti yang dilakukannya pada peletakan batu pertama, Berretty mengundang tamunya tur berkeliling kawasan vila tersebut. Acara itu disajikan khusus secara dramatik, dengan memasang obor pada titik-titik tertentu, dan membangun suasana misterius, apalagi acara tersebut diselenggarakan pada pukul 8 malam. Para tamu berkumpu di ruang biliar, kemudian dipandu oleh Berretty sendiri berkeliling hingga berakhir di puncak gedung sambil menikmati barbeque serta suasana romantik dengan hembusan angin dingin, diterangi temaram cahaya obor dan pemandangan lampu kota dilihat dari ketinggian di kawasan bandung Utara.

Setelah para tamu melakukan toast kepada Berretty dan Nyonya, mereka semua berjalan menuju ruang film yang mempunyai kapasitas 60 tempat duduk. Mereka disajikan film proses pembangunan Vila Isola. Para tamu berdecak kagum, karena pada jaman itu belum pernah ada sebuah bangunan yang dipersiapkan begitu matang hingga pendokumetasiannya. Setelah memutar beberapa film box office di masa itu, para tamu pulang ke rumah masing-masing diiringi suara kokok ayam jantan di pagi hari, dengan hati yang masih terkagum-kagum mendapat pengalaman spektakuler dari si konglomerat eksentrik Dominique Willem Berretty.



Pembangunan Vila Isola adalah pembangunan yang sangat spektakuler pada masa itu di Hindia Belanda. Pembangunan yang memakan waktu "hanya" tujuh bulan dengan mengerahkan 700 orang pekerja. ada saksi mata pembangunan gedung ini yang tinggal di daerah sekeloa-Dipati ukur Bandung bernama Abah Uha. Kala itu beliau sudah berumur 93 tahun, dan menceritakan pengalamannya ini sekitar tahun 90'an. Abah Uha pernah beberapa kali melihat "mister Bareti" (begitu lidah para pekerja menyebut DW Berretty dengan lidah sundanya) mengontrol  pekerjaan pembangunan vilanya tersebut. menurut Abah Uha, Berretty adalah seorang yang sangat ramah, menyapa para pekerjanya tanpa mendiskriminasikan mana bule, mana pribumi. Mungkin juga karena Berreety setengah Italia setengah Jawa, sehingga ia mempunyai rasa sebagai bangsa negeri ini separuh hatinya.

Secara teknis, bangunan vila ini sudah menggunakan beton bertulang serta material struktur yang melampaui jamannya. Desainnya yang sangat plastis membutuhkan dukungan struktur dan material yang kokoh dan perhitungan yang akurat. Beberapa material memang special order, sehingga biaya pambangunan vila ini sangat tinggi. Jika disetarakan dengan nilai rupiah sekarang, nilai bangunannya saja berharga 60 Milyar Rupiah. Belum lagi nilai investasi tanah yang terhampar begitu luasnya. Pantas saja pemerintah kolonial serta para wartawan yang berseberangan dengan Berretty terus memicingkan matanya dan terus melakukan investigasi darimana kekayaan Berretty berasal.Vila yang telah berdiri dengan anggunnya memang patut diacungkan jempol.

Desain bangunan yang futuristis ini benar-benar layak menjdi landmark dan icon di era art-deco. Setiap lekuk liku yang ditampilkannya benar-benar menggugah rasa yang mengamati tampilan visual gedung ini. Setiap detil dirancang dengan tepat dan akurat, serta nyaris tidak ada celah tersisa yang tidak memiliki makna dan fungsi apa-apa. dari mulai jalan menuju pintu utama, hingga tampilan sekeliling vila ini merupakan representasi keindahan visual masa itu.

Taman yang dihampari pecahan batu alam, serta penataan yang mengangkat simplisitas dari gaya masa tersebut, dipadu dengan pemiihan tanaman yang tepat, apalagi latar belakang hamparan taman tersebut menghadap panorama alam priangan yang sejuk dan bersih mengesankan citra surealistik, sehingga memberikan pengalaman visual yang unik dan berkelas bagi penikmatnya. Lepas dari kepiawain arsitek Schoemacher mengolah komponen ini semua, DW Berretty memang seorang perfeksionis yang bercita rasa tinggi.Untuk kolamnya saja, Berretty memesan angsa hitam impor untuk memperindah kolam yang telah ditata dengan elemen-elemen estetis serta patung yang didatangkan dari Belanda.

Untuk area garasi, vila ini memiliki lay out dan blocking area yang unik. Kedua garasi yang terpisah di dua sayap terlihat begitu cantiknya. Elemen-elemen sederhana turut melengkapi area garasi yang ditunjang pemsanagan batu alam pada dinding dan tiang-tiangnya. Sedangkan penggunaan batu pecah pada jalan di area tersebut benar-benar mengangkat nilai-nilali alami bangunan tersebut.

Vila Isola tidak hanya cantik dilihat dibawah terpaan matahari, tapi juga memberikan kesan anggun dan misterius jika dilihat pada malam hari. Schoemacher telah memperhitungkan efek cahaya lampu-lampu yang menembaki vila ini di malam hari, sehingga memberikan efek dramatik dan kesan romantik.



M'I SOLO E VIVO... "Sendiri dan Bertahan Hidup", itulah prinsip hidup Berretty yang diabadikan di dinding ruang depan pintu masuk ke dalam Vilanya (FOTO 1). Desain Vila yang diterjemahkan Schoemacher ke dalam konsep Vila Isola ini ternyata tidak sembarangan. Semua memiliki makna filosofis. ISOLA sendiri berarti "Terisolir", atau "dijauhkan" (dari keramaian), karena selain sosok yang menyukai kehidupan glamour dan senang menghadapi orang banyak, sesunguhnya Berretty adalah pribadi yang introvert, serta senang kehidupan yang misterius dan tertutup. Disini terlihat ketajaman sense seorang Schoemacher yang berhasil mewujudkan Isola menjadi Vila yang anggun, namun tetap terlihat penuh misteri, seperti sosok pemiliknya.

Living Room atau tempat berkumpulnya keluarga Berretty (GAMBAR 2) didesain begitu menawan. Lengkap dengan Grand Piano yang ditata dengan kemiringan 45 derajat terhadap ruangan, memungkinkan pemainnya bisa menikmati panorama kota Bandung yang terhampar di balik kaca jendela yang melebar. Sofa yang diset di ruangan ini dilapis bahan tekstil, dirancang dengan desain yang sudut ergonomisnya memang diperuntukkan menikmati panorama kota Bandung dari ketinggian.

Sesuai dengan prinsipnya M'I SOLO E VIVO, Berretty selalu mengendalikan bisnis dan strateginya dibalik meja kerjanya (GAMBAR 3). Di sebuah ruangan yang bisa diakses dari ruang keluarga, Baretty selalu menghabiskan waktunya untuk berpikir dan menuangkan segala gagasannya. Jika kita perhatikan, mebel yang digunakannya bergaya Art Deco. Gaya yang mutakhir pada jamannya. Tidak hanya mebel utamanya saja, elemen-elemen penunjang interior seperti elemen-elemem estetis di setiap dingingnya, hingga tempat sampah yang berada di samping kursi kerjanya menunjukkan sebuah kesatuan desain yang terintegrasi.

Ada sebuah ruangan yang menjadi favorit Berretty untuk menghabiskan waktu santainya, yaitu ruangan studi (GAMBAR 4). Selera atau cita rasa Berretty yang tinggi sangat terlihat dari penataan benda-benda koleksinya. Sejumlah lukisan karya pelukis Eropa dan pelukis lokal ternama menghiasi dinding ruangan tersebut. Ditambah lagi patung-patung karya seniman terkenal eropa turut memperindah ruangan yang sering digunakannya untuk berlama-lama membaca buku-buku yang tertata rapi di raknya.

Begitu pula dengan kamar tidur (GAMBAR 5), dua kursi yang ditempatkan di kaki ranjang menghadap kaca jendela dan pintu geser berukuran besar, sehingga memungkinkan penghuninya langsung menghirup segarnya udara pegunungan di pagi hari sekaligus menikmati hangatnya sinar matahari. Desain mebel yang dipergunakan di setiap ruangan dalam Vila Isola ini semua merupakan satu kesatuan utuh. Ini terlihat dari desain mebel yang ada di setiap ruangan tidur seperti ruang tidur tamu dan ruang tidur anak (GAMBAR 6)

Ruang Makan (GAMBAR 7) merupakan salah satu ruangan terpenting dalam sebuah rumah. Hampir sebagian besar orang membuat nyaman ruang makannya dengan elemen estetis penunjang interior yang membuat penghuninya betah dan nyaman. Ruang makan di Vila Isola ini menggunakan mebel berdesain Art Deco dengan finishing yang mewah dan nyaris sempurna. Dari mulai pemilihan lampu hingga karpet terasa menyatu dengan ruangan yang posisinya masih memungkinkan orang-orang yang makan di dalamnya menikmati panorama kota Bandung. Akan semakin indah jika menikmati makan malam di ruangan ini, karena bisa menikmati city lights kota Bandung sambil menikmati hidangan makan malam.

Di waktu senggang, Berretty bersama keluarga dan teman-temannya di sebuah ruangan yang disebut "Sport Room" (GAMBAR 8). Mereka sering berkumpul ngobrol santai sambil bermain bilyar. Selain itu ada beberapa peralatan amusement seperti karambol, catur, mini soccer dan lain-lain. Penataan ruangan terasa begitu nyaman, sehingga membuat orang betah berlama-lama di ruangan ini.

Barangkali ruangan ini merupakan ruangan yang paling mutakhir yang dimiliki seseorang di rumahnya pada masa tersebut. Ruangan bar (GAMBAR 9) yang di dalamnya terdapat sistem audio visual lengkap, sehingga bisa menikmati beraneka jenis minuman, serta spektakuer adalah memiliki fasilitas layar lebar dengan kapasitas 60 orang! Konon koleksi film yang ada di dalamnya adalah film-film box office yang dikrim langsung dari produsennya di Hollywood, setiap mereka melakaukan launching di tempat asalnya. Kedudukan Berretty sebagai raja media di Asia Tenggara memungkinkan semua hal itu terjadi, karena hubungannya begitu dekat dengan produser film, artis, dan raja-raja media dunia.

Jika kita simpulkan, Berretty telah berhasil mewujudkan impiannya utuk membangun surga di dunia menurut versinya. Dari sebuah prinsip hidup, M'I SOLO E VIVO, Berretty telah berhasil membangun kejayaan, kekayaan dan ketenaran yang sebenarnya sangat kontradiktif dengan prinsip hidupnya yang senang menyepi dan bertahan hidup untuk membangun cita-citanya...