Senin, 19 Maret 2012

ISOLA Punya Cerita...

Tiba-tiba teringat artikel tentang ISOLA yang di tag tahun lalu ke FB saya. Hehhehe Waktu itu saya sempet malu karena sebagai alumni UPI sempet gak tau tentang sejarah ISOLA, yang ngetag malah alumni ITB, hehehe. Mas Ruly saya ijin lagi ya artikelnya dishare di blog, berhubung banyak anak-anak UPI biar sama-sama hatam tentang sejarahnya dan kisah Berretty yang dulu sempet heboh  diskusinya...

Teman-teman ini sejarah ISOLA, ada beberapa bagian ya, have a nice reading all :)





Untuk mewujudkan ambisinya membangun sebuah Vila mewah dan modern, Berretty telah memilih lokasi yang telah diperhitungkannya secara matang dari berbagai macam aspek. Tanah seluas 120.000 meter di desa Tjidadap, tepatnya di Lembangweg, kini sekarang jalan Setiabudi Kota Bandung, memiliki lokasi yang sangat strategis baik dari sudut pandang maupun aksesibilitasnya. Iklim Bandung di kala itu masih sangat dingin, apalagi di kawasan Bandung Utara yang dekat dengan lembang. Lokasi tersebut sangat tepat peruntukkannya sebagai lokasi Vila atau rumah peristirahatan, karena jaraknya dari dan menuju pusat kota relatif cukup jauh.

Pada hari Minggu 12 Maret 1933, Berretty mengadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan vilanya tersebut. Hampir semua orang penting di Kota Bandung hadir pada acara tersebut, diantaranya; Walikota Bandung, Kepala Kantoor PTT beserta para pejabatnya, Para Anggota Dewan Rakyat, Presiden Royal Packet Company, Chen Italia, Konsul di Batavia, para komandan dari Departemen Penerbangan dan kesembilan batalyon infanteri Tjimahi, Kepala Distrik Provinsial Air, Bupati Bandung dan hoofdpenghoeloe,pemimpin bisnis lokal, staf kantor pusat Aneta, editor dari berbagai surat kabar di daerah lain, termasuk Bapak Arnoldo Fraccaroli, dari Corriere della Sera di Milan, dll
(Sumber dari harian "Java Bode", Selasa 14 Maret 1933).

Perjalanan keliling situs pembangunan dimulai pukul 10.00 dipimpin oleh Berretty sendiri, mengajak para tamu berkeliling. Peletakan batu pertama dimulai oleh peletakan bata pertama oleh putera Berretty, diikuti oleh para tamu yang menyusun bata untuk dipasang pada bagian bangunan yang pertama digarap. Sambil memperhatikan para tamu yang ikut meletakkan bata, Berretty bercerita impiannya tentang Vila ini, termasuk bunga-bungaan yang menghiasinya adalah bunga-bunga yang dibiakkan secara khusus, dan dipasang sesuai dengan desain bangunan secara keseluruhan. Seorang yang perfeksionis!

Tak lama kemudian, Prof. Wolff Schoemacher, seorang guru besar arsitek pengajar di Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) dan yang dipilih oleh Berretty untuk mendesain vilanya, menjelaskan konsep keseluruhan bangunan vila berikut taman dan kolamnya. Pada masa itu, Schoemacher adalah arsitek yang sangat terkenal, dan karyanya banyak menghiasi kota Bandung, seperti Beberapa gedung di Jalan Braga, Katedral di Jalan Merdeka, Masjid Cipaganti,dan beberapa gedung yang menjadi Landmark Kota Bandung.

Ada beberapa patah kata menarik dari sambutan yang dilontarkan oleh Berretty, bahwa ia sangat mencintai negeri ini, dan akan menetap selamanya di Hindia Belanda. Ia juga menegaskan kepada para tamu, bahwa ia tidak akan pindah ke negara manapun juga, dan akan terus memimpin dan membesarkan Aneta menjadi agen pers yang ternama. Mr Kiewiet de Jonge, seorang pejabat Hindia Belanda berkata, vila ini mempunyai sudut pandang yang menarik dari sudut manapun juga. Staf kabupaten, R. Moehamad Henokh, memuji kerja keras yang dilakukan dalam membangun kawasan vila tersebut dengan melibatkan 700 orang tenaga kerja dengan perlakuan penggajian dan pemberian makanan dengan sangat baik.

Tujuh bulan berlangsung pembangunan ekstra cepat, akhirnya selesailah vila yang spektakuler tersebut. Pada tanggal 16 Desember 1933, Berretty dan nyonya mengundang tamu-tamu penting pada peresmiannya.Seperti yang dilakukannya pada peletakan batu pertama, Berretty mengundang tamunya tur berkeliling kawasan vila tersebut. Acara itu disajikan khusus secara dramatik, dengan memasang obor pada titik-titik tertentu, dan membangun suasana misterius, apalagi acara tersebut diselenggarakan pada pukul 8 malam. Para tamu berkumpu di ruang biliar, kemudian dipandu oleh Berretty sendiri berkeliling hingga berakhir di puncak gedung sambil menikmati barbeque serta suasana romantik dengan hembusan angin dingin, diterangi temaram cahaya obor dan pemandangan lampu kota dilihat dari ketinggian di kawasan bandung Utara.

Setelah para tamu melakukan toast kepada Berretty dan Nyonya, mereka semua berjalan menuju ruang film yang mempunyai kapasitas 60 tempat duduk. Mereka disajikan film proses pembangunan Vila Isola. Para tamu berdecak kagum, karena pada jaman itu belum pernah ada sebuah bangunan yang dipersiapkan begitu matang hingga pendokumetasiannya. Setelah memutar beberapa film box office di masa itu, para tamu pulang ke rumah masing-masing diiringi suara kokok ayam jantan di pagi hari, dengan hati yang masih terkagum-kagum mendapat pengalaman spektakuler dari si konglomerat eksentrik Dominique Willem Berretty.



Pembangunan Vila Isola adalah pembangunan yang sangat spektakuler pada masa itu di Hindia Belanda. Pembangunan yang memakan waktu "hanya" tujuh bulan dengan mengerahkan 700 orang pekerja. ada saksi mata pembangunan gedung ini yang tinggal di daerah sekeloa-Dipati ukur Bandung bernama Abah Uha. Kala itu beliau sudah berumur 93 tahun, dan menceritakan pengalamannya ini sekitar tahun 90'an. Abah Uha pernah beberapa kali melihat "mister Bareti" (begitu lidah para pekerja menyebut DW Berretty dengan lidah sundanya) mengontrol  pekerjaan pembangunan vilanya tersebut. menurut Abah Uha, Berretty adalah seorang yang sangat ramah, menyapa para pekerjanya tanpa mendiskriminasikan mana bule, mana pribumi. Mungkin juga karena Berreety setengah Italia setengah Jawa, sehingga ia mempunyai rasa sebagai bangsa negeri ini separuh hatinya.

Secara teknis, bangunan vila ini sudah menggunakan beton bertulang serta material struktur yang melampaui jamannya. Desainnya yang sangat plastis membutuhkan dukungan struktur dan material yang kokoh dan perhitungan yang akurat. Beberapa material memang special order, sehingga biaya pambangunan vila ini sangat tinggi. Jika disetarakan dengan nilai rupiah sekarang, nilai bangunannya saja berharga 60 Milyar Rupiah. Belum lagi nilai investasi tanah yang terhampar begitu luasnya. Pantas saja pemerintah kolonial serta para wartawan yang berseberangan dengan Berretty terus memicingkan matanya dan terus melakukan investigasi darimana kekayaan Berretty berasal.Vila yang telah berdiri dengan anggunnya memang patut diacungkan jempol.

Desain bangunan yang futuristis ini benar-benar layak menjdi landmark dan icon di era art-deco. Setiap lekuk liku yang ditampilkannya benar-benar menggugah rasa yang mengamati tampilan visual gedung ini. Setiap detil dirancang dengan tepat dan akurat, serta nyaris tidak ada celah tersisa yang tidak memiliki makna dan fungsi apa-apa. dari mulai jalan menuju pintu utama, hingga tampilan sekeliling vila ini merupakan representasi keindahan visual masa itu.

Taman yang dihampari pecahan batu alam, serta penataan yang mengangkat simplisitas dari gaya masa tersebut, dipadu dengan pemiihan tanaman yang tepat, apalagi latar belakang hamparan taman tersebut menghadap panorama alam priangan yang sejuk dan bersih mengesankan citra surealistik, sehingga memberikan pengalaman visual yang unik dan berkelas bagi penikmatnya. Lepas dari kepiawain arsitek Schoemacher mengolah komponen ini semua, DW Berretty memang seorang perfeksionis yang bercita rasa tinggi.Untuk kolamnya saja, Berretty memesan angsa hitam impor untuk memperindah kolam yang telah ditata dengan elemen-elemen estetis serta patung yang didatangkan dari Belanda.

Untuk area garasi, vila ini memiliki lay out dan blocking area yang unik. Kedua garasi yang terpisah di dua sayap terlihat begitu cantiknya. Elemen-elemen sederhana turut melengkapi area garasi yang ditunjang pemsanagan batu alam pada dinding dan tiang-tiangnya. Sedangkan penggunaan batu pecah pada jalan di area tersebut benar-benar mengangkat nilai-nilali alami bangunan tersebut.

Vila Isola tidak hanya cantik dilihat dibawah terpaan matahari, tapi juga memberikan kesan anggun dan misterius jika dilihat pada malam hari. Schoemacher telah memperhitungkan efek cahaya lampu-lampu yang menembaki vila ini di malam hari, sehingga memberikan efek dramatik dan kesan romantik.



M'I SOLO E VIVO... "Sendiri dan Bertahan Hidup", itulah prinsip hidup Berretty yang diabadikan di dinding ruang depan pintu masuk ke dalam Vilanya (FOTO 1). Desain Vila yang diterjemahkan Schoemacher ke dalam konsep Vila Isola ini ternyata tidak sembarangan. Semua memiliki makna filosofis. ISOLA sendiri berarti "Terisolir", atau "dijauhkan" (dari keramaian), karena selain sosok yang menyukai kehidupan glamour dan senang menghadapi orang banyak, sesunguhnya Berretty adalah pribadi yang introvert, serta senang kehidupan yang misterius dan tertutup. Disini terlihat ketajaman sense seorang Schoemacher yang berhasil mewujudkan Isola menjadi Vila yang anggun, namun tetap terlihat penuh misteri, seperti sosok pemiliknya.

Living Room atau tempat berkumpulnya keluarga Berretty (GAMBAR 2) didesain begitu menawan. Lengkap dengan Grand Piano yang ditata dengan kemiringan 45 derajat terhadap ruangan, memungkinkan pemainnya bisa menikmati panorama kota Bandung yang terhampar di balik kaca jendela yang melebar. Sofa yang diset di ruangan ini dilapis bahan tekstil, dirancang dengan desain yang sudut ergonomisnya memang diperuntukkan menikmati panorama kota Bandung dari ketinggian.

Sesuai dengan prinsipnya M'I SOLO E VIVO, Berretty selalu mengendalikan bisnis dan strateginya dibalik meja kerjanya (GAMBAR 3). Di sebuah ruangan yang bisa diakses dari ruang keluarga, Baretty selalu menghabiskan waktunya untuk berpikir dan menuangkan segala gagasannya. Jika kita perhatikan, mebel yang digunakannya bergaya Art Deco. Gaya yang mutakhir pada jamannya. Tidak hanya mebel utamanya saja, elemen-elemen penunjang interior seperti elemen-elemem estetis di setiap dingingnya, hingga tempat sampah yang berada di samping kursi kerjanya menunjukkan sebuah kesatuan desain yang terintegrasi.

Ada sebuah ruangan yang menjadi favorit Berretty untuk menghabiskan waktu santainya, yaitu ruangan studi (GAMBAR 4). Selera atau cita rasa Berretty yang tinggi sangat terlihat dari penataan benda-benda koleksinya. Sejumlah lukisan karya pelukis Eropa dan pelukis lokal ternama menghiasi dinding ruangan tersebut. Ditambah lagi patung-patung karya seniman terkenal eropa turut memperindah ruangan yang sering digunakannya untuk berlama-lama membaca buku-buku yang tertata rapi di raknya.

Begitu pula dengan kamar tidur (GAMBAR 5), dua kursi yang ditempatkan di kaki ranjang menghadap kaca jendela dan pintu geser berukuran besar, sehingga memungkinkan penghuninya langsung menghirup segarnya udara pegunungan di pagi hari sekaligus menikmati hangatnya sinar matahari. Desain mebel yang dipergunakan di setiap ruangan dalam Vila Isola ini semua merupakan satu kesatuan utuh. Ini terlihat dari desain mebel yang ada di setiap ruangan tidur seperti ruang tidur tamu dan ruang tidur anak (GAMBAR 6)

Ruang Makan (GAMBAR 7) merupakan salah satu ruangan terpenting dalam sebuah rumah. Hampir sebagian besar orang membuat nyaman ruang makannya dengan elemen estetis penunjang interior yang membuat penghuninya betah dan nyaman. Ruang makan di Vila Isola ini menggunakan mebel berdesain Art Deco dengan finishing yang mewah dan nyaris sempurna. Dari mulai pemilihan lampu hingga karpet terasa menyatu dengan ruangan yang posisinya masih memungkinkan orang-orang yang makan di dalamnya menikmati panorama kota Bandung. Akan semakin indah jika menikmati makan malam di ruangan ini, karena bisa menikmati city lights kota Bandung sambil menikmati hidangan makan malam.

Di waktu senggang, Berretty bersama keluarga dan teman-temannya di sebuah ruangan yang disebut "Sport Room" (GAMBAR 8). Mereka sering berkumpul ngobrol santai sambil bermain bilyar. Selain itu ada beberapa peralatan amusement seperti karambol, catur, mini soccer dan lain-lain. Penataan ruangan terasa begitu nyaman, sehingga membuat orang betah berlama-lama di ruangan ini.

Barangkali ruangan ini merupakan ruangan yang paling mutakhir yang dimiliki seseorang di rumahnya pada masa tersebut. Ruangan bar (GAMBAR 9) yang di dalamnya terdapat sistem audio visual lengkap, sehingga bisa menikmati beraneka jenis minuman, serta spektakuer adalah memiliki fasilitas layar lebar dengan kapasitas 60 orang! Konon koleksi film yang ada di dalamnya adalah film-film box office yang dikrim langsung dari produsennya di Hollywood, setiap mereka melakaukan launching di tempat asalnya. Kedudukan Berretty sebagai raja media di Asia Tenggara memungkinkan semua hal itu terjadi, karena hubungannya begitu dekat dengan produser film, artis, dan raja-raja media dunia.

Jika kita simpulkan, Berretty telah berhasil mewujudkan impiannya utuk membangun surga di dunia menurut versinya. Dari sebuah prinsip hidup, M'I SOLO E VIVO, Berretty telah berhasil membangun kejayaan, kekayaan dan ketenaran yang sebenarnya sangat kontradiktif dengan prinsip hidupnya yang senang menyepi dan bertahan hidup untuk membangun cita-citanya...

Jumat, 16 Maret 2012

Makna Sebuah Titipan

Artikel ini saya dapat dari Andrie Wongso and team di home page nya. Bikin merenung dan berkaca diri.  Puisi di bawah ini adalah karangan W.S Rendra ( Wilibrordus Surendra Broto Rendra ) yang dijuluki "Burung Merak "




Makna Sebuah Titipan
Sering kali aku berkata, ketika semua orang memuji milikku..


Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?


Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah. Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka. Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku


Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita' adalah hukuman bagiku


Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika: Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.


Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku


Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah. "Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".
 

Kamis, 15 Maret 2012

Tanjung Priok dan Teater Koma

Hari ini pukul 7 pagi saya sudah berada di terminal bis Leuwi Panjang untuk ke Tanjung Priok. Whuaaaa gak sabar cepet-cepet sampe, karena akhirnya saya bisa juga liat pelabuhan heheh agak norak yah tapi biarlah, soalnya saya dulu kerja di forwarder dan sekalipun belum pernah tuh yang namanya liat pelabuhan kayak apa, jadinya kan penasaran. Alhamdulillah hari ini bisa melihat dengan puas plus ikut merasakan naik di kapal patrolinya hehehe. Awalnya sereeem bangett huaaah melintasi lautan. Lagi batuk parah tetep aja nekat melaut, jiaaah merasa pelaut gini hahaha. Padahal cuman nemenin nganter ransum makanan buat yang pada diklat di Pulau Edam yang berada di bagian paling ujung Tanjung Priok. Beberapa jam di laut bikin mabok juga karena belum terbiasa kali ya, siangnya bener-bener nyengat jadi berlindung deh biar nggak kepanasan. Alhasil yaah tetep aja mabok.

Setelah selesei melaut, cieeeeeeh melauttt mbak hehehe. Mampir ke kantor baru ayah di Priok, hihihi ada internet ngeblog dulu deh, sambil nemenin ayah nyelesein kerjaan. Udah teler tapi masih harus ke TIM ada pertunjukan Teater Koma, horeeeee akhirnya setelah sekian lama bisa juga liat pertunjukan teater Koma langsung, ini acara 35 tahun teater koma. Sampe dsana udah laper berat makan dulu bentar dan beli tiket, ternyata penuh banget. Wah hebat pada antusias liatnya. 

Pukul Setengah delapan pertunjukan dimulai judulnya Sie Jin Kwie Di negeri sihir. Karena ini trilogi, awalnya masih agak bingung. Maklumlah belum nonton yang pertama dan kedua. Mulailah mengikuti ceritanya dengan khusuk. Tumben banget dibawa jalan masih tahan melek, biasanya lewat jam delapan udah meredup nih mata. Hahhaha karena asik terbawa cerita kali yah jadinya tetep tahan. Sejam....duaaa jam....tiga jaaaammmm...kirain udah mau selesei ternyata jam sepuluhan ada waktu break 15 menit. Hiyaaaa langsung ngacir ke toilet yang ngantri banget, goyang-goyang badan deh di toilet saking kebeletnya hihihih. Setelah itu nyariin ayah dibawah, ngilaang waaah kemana, taunya beliin kebab buat makan, tau aja kelaperan berat, untungnya beli cuman satu soalnya bisa buat berdua, gedeee banget porsinya. Abang-abangnya tau kali yah udah nonton lama pasti laper, hehehhehe.

Ternyata acaranya baru selesei jam setengah satu malem, woooowwww lima jaaaam ternyata. Kasian sampe ada yang tidur di sebelah saking capeknya..heheheh...bela-belain nemenin nonton.Makasih ya yah. Tapi sumpah teaternya keren buangeeeeet, cerita nya baguss banget meskipun tokoh utamanya agak bikin greget. Heheheh. Nanti bahas tentang cerita ini di next page aja ah. Hehhehe. Jam satu sampe rumah, teleeeeeer, langsung tidur deh....wuhuuuuu weekend yang seruuuu dengan badan sakit ehhehee.


Ini foto dengan pemeran tokoh Sie Jin Kwie...sampingya saya nggak tau tuh sapa..yang motoin ayah..hahha...hmmmmm saya nampak enduut bangeet siyyy fotonya



Jejak Semu yang Salah...

Sudah melangkah sejauh ini meninggalan harta yang paling berharga demi mengikuti kesemuan yang sekejap bisa menghilang. Jika makian paling kasar saja tidak mampu menggoyahkan pegangan yang sudah tercengkram kuat bagaimana melanjutkan sisa bab tanpa prasangka akut. Bisa saja tanpa butuh waktu  lama kukeluarkan semua manuskrip penuh rekayasa yang sudah terlanjur dibuat oleh jiwa yang  picik Yang teralamatkan untuk satu makhluk yang diumpani kepada kehausan ego.

Masih bertahan dengan pendirian yang kuat. Padahal segala bentuk rahasia sekecil apapun ada dalam genggaman. Masih beralibi untuk kesekian kalinya. Mematahkan wibawa yang dibangun dengan kata-kata tanpa arti. Sudah lama tahu dan sudah lama mengerti, memberikan waktu untuk bercerita tanpa kemarahan yang memuncak. Masih saja topeng itu menggelayuti paras indahmu.

Beruntung bukan penjaga jiwaku yang memiliki kepicikan yang termediasi dengan kata-kata. Mampuku hanya  berdoa mengadu  penuh nyeri. Berharap bahwa pelajaran itu tiba dalam salah satu bab yang sedang kaususun. Mampuku bukan membalas, karena bukan seperti sesosok jiwa yang kosong dan menumpahkan kekesalannya dengan makian. Sadari diri lebih baik tanpa harus menghakimi.

Tak tersadarkan dengan segala sindiran. Sudah terlalu bebalkah untuk mengakui. Atau terlalu takut untuk berkata-kata. Bukan sempurna yang berharap disodorkan sekarang tapi kemurnian jiwa untuk berani berkata. Akan termaafkan sekarang daripada  berhadapan dengan kehilangan.


Hayooo Sehat apa Teler...

Jangan sepelekan sakit. Meskipun sakitnya biasa aja tapi tetep aja kalo gak dirawat bisa manjang dan malah aktivitas terhambat. Hampir dua minggu kemarin sejak saya mengalami suara serak sampai akhirnya hilang suara, walaaaaah terganggu deh kegiatan. Apalagi kalo ngajar kan pake suara, dan lagi murid-muridnya anak-anak kecil yang jelas aktif banget, so nggak mungkin kalo cuman pake bahasa isyarat., pasti ada tuh teriak nya biar mendamaikan suasana, halaah mendamaikan...hahahahha tau sendiri kan kalo anak-anak kecil ngumpul walaaah rameee. Tapi lucunya sempet juga duduknya deketan sambil bisik-bisikan, lucu deh.

Belum sempet ke dokter juga, haduuh minum air putih anget banyak dan mengkonsumsi vitamin C biasanya cukup manjur. Tapi mungkin karena aktivitasnya yang full dari pagi sampe malem, plus saya ini angkoters jadi kena angin terus deh, bandelnya kadang kelupaan bawa jaket. Yah alhasil hari keempat udah teler banget.

Weekend seharusnya istirahat, tapi karena ada keperluan makanya saya langsung ke Jakarta. Lha dan di Jakarta nekat deh nantangin angin laut yang udah tau lagi musim ujan gini ombak n anginnya gede banget. Pake pelampung siy tapi tetep aja anginnya nerpa keras banget. Mulai berangkat jam sebelasan trus sampai sekitar jam duaan udah teler berat. Perjalanan pulang ke pelabuhan Tanjung Priok malah tidur di kamar bawah. Waaah berasa banget ombaknya ngeukk ngeuuk ngeuuk mulai pusing beraat.... huaaaaahhh double mabok niy, mabok laut plus maboook karena flu berat kali ya plusss anginnya beuuhhh.

Minggunya bener-bener gak bisa lepas dari tempat tidur, minum obat seadanya dan tidur seharian. Malemnya tetep aja masih gak enak. Wah bahaya nih. Senin subuhnya langsung balik lagi ke Bandung ngejar ngajar jam delapanan, eh nggak taunya salah baca sms harusnya masuk jam sepuluh hahahaaa, harusnya lumayan dua jam buat ke dokter dulu. Fyi, alhamdulillah kalo saya sakit pasti larinya ke puskesmas, dan hanya pake obat generik saya bisa cocok, alhamdulillah gak usah ke dokter yang butuh obat mahal, hehehe.

Jadi beberapa hari ini bener-bener istirahat, whuaaa bisa juga ngerasain kecapekan hehe, berasa kayak orang sibuk, atau malah sebenarnya gak bisa manage waktu, hayoooooo kaget kali badannya, plus cuacanya lagi gak enak. Sekarang alhamdulillah udah agak lumayan, dan mulai aktivitas lagi. Ya memang jangan nyepelein sakit ringan, karena bisa merambat. Take care  and love your self. Yang tau diri kita kan hanya kita sendiri. Satu paket diri kita adalah anugerah, jadi harus dijagain baik-baik. Alhamdulillah Ya Allah diberi kesembuhan. Semoga orang-orang tersayang yang lagi sakit segera disembuhkan dan bisa beraktivitas lagi seperti biasa, menebarkan senyum ke semua orang dan berkarya lagi. :)


" Get well soon my Prince....."

Rabu, 14 Maret 2012

Bedakan Antara Nyata dan Semu...

Percayakah bahwa masa depan itu ada.?! Hah omong kosong penuh trik. Tak kan ada nyata yang dibangun diatas kesemuan dengan merampas hak. Kalaupun memang sudah tercipta cerita, biarkanlah itu menjadi kebodohan sesaat.  Tak perlu menjadi senaif itu untuk berikrar. Janji itu hanya hiasan bukan prasasti yang terukir nyata. Merasa sebagai yang paling tulus bukan menjadi kebanggan. Karena benteng itu akan tetap ada, dan doa-doa pasti terhalang.

Ada penolakan yang menjauhkan arti kisah yang mendalam untuk sekedar diraih tanpa jejak. Membuyarkan asa yang selama ini menjadi pegangan untuk bertahan. Tanpa tatap muka dan tanpa suara. Hanya kata yang menikahkan rasa yang terpatri belum sempurna. Jika sempat bertandanglah dengan kata yang paling mujarab untuk menjadi obat untuk melerai setiap sepi yang hadir. Bolehkah lagi merasakan genggaman yang mampu meremuk redamkan seluruh pandangan yang menciptakan pemandangan langka.

Kata tidak itu datang lagi setelah ribuan hari membangun percaya yang kuat. Katanya hanya sesaat menghilang, ternyata hingga pagi berlarian menyambut matahari, bayangan itu tak pernah muncul lagi. terkhianati waktu dan rangkaian kisah semu. 






Sabtu, 10 Maret 2012

The Meaning of Love

Pertama kali cerita ini saya baca kalo nggak salah sekitar 7-8 tahun yang, tepatnya saya lupa. Tapi bagi saya ceritanya sangat menyentuh. Lupa source nya dapat darimana.
Have a nice reading friends... :)

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasan saya mencintainya pada waktu dulu telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.

Suatu hari akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya yaitu saya menginginkan perceraian.
 " Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
" Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini", jawab saya
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?
Dan akhirnya dia bertanya, " Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"
Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lainsangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa sayabisa mengubah pribadinya. Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia berkata, " Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...." Istriku sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya"
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan puntu untukmu."
"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu akan menjadi 'aneh'.Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu."
"Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah, menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu."
"Juga sayangku, saya yakin begitu banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, dan saya membaca kembali.
"Dan sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu. "
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Oh saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus melupakan 'bunga' itu sendiri.

Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak kita ketahui. Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri dan itulah kehidupan kita.